bedah kasus

Irigasi Rusak, 150 Ha Sawah Kekeringan di Guntul


Pasaman Barat-integritasmedia.com-MASYARAKAT Petani di kawasan Tanjung Durian, Talang kuning, Sungai Aur 1 dan Sungai Aur 2 Kenagaraian Persiapan Seberang Kenaikan daerah Poraman Bondar Kecamatan Gunung Tuleh (Guntul) Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) terancam kekurangan pangan. Pasalnya, sejak enam bulan terakhir, para petani di sana tidak bisa turun ke sawah dan mengalami gagal tanam.

Dikabarkan, saat ini ketersediaan pangan di sana sudah semakin menipis. Sehingga berpotensi menambah angka kemiskinan karena harus membeli dan mendatangkan bahan pangan dari luar ke kawasan tersebut.
Peristiwa gagal tanam ini, merupakan efek panjang dari kerusakan saluran irigasi di kawasan tersebut. Menurut informasi yang diperoleh integritas, saat ini irigasi yang ada sudah mengalami kekeringan dan tak mampu mengairi persawahan yang ada di kawasan itu yang luasnya mencapai 150 Ha lebih.

Ketidaktersediaan pengairan yang cukup tersebut, diduga kuat karen terkikisnya saluran bendungan irigasi dan mengami kerusakan dan ambruk. Sehingga tak mampu lagi mensuplai air dari Sungai Batang Kenaikan.
Padahal, ada empat titik sumber irigasi yang selama ini dimanfaatkan masyarakat. Yakni di kawasan Talang kuning, sungai aur 1, sungai aur 2 dan Tanjung Durian. Semua sumber irigasi itu telah rusak dan tak berfungsi lagi.

Menurut tokoh pemuda di sana, Alfiandri, ST, kondisi dan kerusakan bendungan irigasi yang ada di daerah itu terkait dengan pengaruh aktifitas galian C di Jorong Bulu Laga Kenagarian Rabi Jonggor. Sehingga menurut Alfiandri dan beberapa orang lainnya seperti Irsal, Rispan, mereka menduga kegiatan penambangan batu dan pasir yang bahkan menggunakan alat berat, diakui turut mempercepat efek kerusakan pada sumber bendungan rigasi.

Permasalahan ini, sejak lama menimbulkan pro kontra antara masyarakat dan pengelola Galian C tersebut. Apalagi pada awalnya pengelola menggunakan alat berat dan telah banyak mengeluarkan material batu dan pasir dari sungai. 

Ketika itu, sekitar tahun 2017, pihak pengelola yang menggunakan alat berat, diduga belum memiliki Izin. Pada saat itu masyarakat telah menolak kegiatan tambang galian C tersebut,

Bahkan tanggal 17 Oktober 2017, masyarakat telah melaporkan keluhan mereka kepada Dinas Pertambangan Provinsi Sumatera Barat, agar pihak dinas terkait tersebut menghentikan kegiatan Galian C di Jorong Bulu Laga dan tidak memberi izin penambangan terhadap kuwari yang dipermasalahkan.

Tetapi kabarnya tetap saja dilakukan dan telah banyak mengeluarkan material batu dan pasir dari sungai. Sehingga terjadi pengikisan dasar sungai secara perlahan karena kegiatan ini dilakukan secara terus menerus.

Akibatnya, jelas Alfianri, karena terjadi pengikisan dasar sungai secara berlahan,  mengakibatkan air tidak dapat mengalir ke saluran Irigasi. Bahkan tumpuan pertapakan irigasi pun terkikis sehingga tak kuat menahan arus sungai apalagi saat hujan sehingga akhirnya bendungan irigasi rusak, ambruk dan hanyut oleh sungai.
“Seluruh Irigasi di Batang Kenaikan memang umumnya sudah ambruk dan hanyut. Sehingga masyarakat tak bisa bertani dan bertanam sawah sejak 6 bulan terakhir,“ kata Alfianri.

Alumni Universitas Bung Hatta Padang ini sangat menghawatirkan perekonomian masyarakat Kenagarian Persiapan Seberang Kenaikan, akan semakin parah. Apalagi  sekarang simpanan atas ketersediaan padi masyarakat sudah sangat menipis.

Mereka menuntut agar aktifitas galian C tetap dihentikan  supaya keadaan irigasi tidak bertambah parah lagi.  Hal ini telah mereka sampaikan saat melakukan demo ke kantor walinagari setempat, Selasa pakan lalu.
Para warga di sana juga telah memblokade truk pengangkut material batu, yang melintas. Sebab, sudah berulang kali masyarakat di sana memperingatkan untuk segera dihentikan.

“Jika kegiatan galian C Ini tetap dilanjutkan. Maka lama kelamaan bisa saja jembatan utama penghubung Seberang Kenaikan dengan Paraman Ampalu akan runtuh, “ ujar Alfianri.

Namun yang mereka kesalkan lagi, justru pengelola Galian C itu melaporkan pula  kejadian pemblokadean truk pengangkut galian C itu ke pihak berwajib.

Walau demikian, jelas Alfianri, masyarakat dalam mmusyawarah yang dihadiri lebih dari 200 orang, beberapa hari yang lalu, menyatakan tetap menuntut pihak pengelola menghentikan aktivitas galian C di daerah itu. Dan mereka minta segera dilakukan perbaikan terhadap irigasi yang rusak.

“Kami tidak ingin masyarakat jadi korban karena kepentingan sekelompok orang. Oleh karenanya kami berharap pihak Pemerintah Nagari dan Kabupaten segera memfasilitasi tuntutan warga dan agar irigasi kembali diperbaiki supaya masyarakat bisa bertani kembali dengan baik,“ harap sejumlah warga. (iz)

About integritasmedia2016

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.