BUKITTINGGI, Integritasmedia.com– Malam di Pulai Anak Air, Kecamatan Mandiangin Koto Selayan (MKS), terasa berbeda. Aula Ladang Rupa Balairung Sari berubah menjadi ruang penuh getaran kata dan jiwa.
Puluhan penyair, penulis, dan penggiat literasi dari berbagai penjuru Sumatera Barat berkumpul dalam helatan bertajuk Beraksara Ria, sebuah perayaan sastra yang sarat makna dan dedikasi.
Digagas oleh Komunitas Bukittinggi Art Event Initiator (BAEI), acara ini bukan sekadar panggung puisi biasa. Ia hadir sebagai bentuk penghormatan terhadap sosok yang tak pernah lekang dalam dunia sastra Indonesia, Chairil Anwar.
Dalam balutan refleksi sastra, bedah buku, orasi budaya, hingga pertunjukan pantomim, semangat Chairil Anwar seakan hadir kembali dan menyalakan bara kata-kata di hati setiap orang yang datang.
Tak terasa, sudah 103 tahun sejak sang “Binatang Jalang” itu lahir ke dunia. Namun semangatnya, justru kian hidup.
Puisi-puisi Chairil tak hanya dibacakan, tapi dirasakan, dihayati dalam senyap dan riuh tepuk tangan para penikmat sastra. Lantunan larik-larik seperti “Aku”, “Karawang–Bekasi”, dan “Derai-derai Cemara” menghujam dalam, membungkam suasana menjadi renungan kolektif.
“Aku, sendiri, sia-sia…
Karawang – Bekasi,
Penghidupan, tak sepadan, suara malam.”
Beberapa kutipan itu menggema dari panggung, membelah malam yang tenang menjadi permenungan dalam. Bahkan gerak pantomim yang menyusul di sela acara seolah mengukuhkan bahwa puisi tidak hanya dibaca, ia bisa dilihat, dirasa, dan dihidupkan.
Asraferi Sabri, penggagas acara, menyampaikan bahwa Hari Puisi Indonesia (HPI) bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah pergerakan yang menghidupkan kembali jiwa perlawanan Chairil Anwar, melalui puisi.
“Asal-usul HPI bermula dari deklarasi sejumlah sastrawan di Riau pada 2012. Mereka sepakat bahwa tanggal lahir Chairil, 26 Juli, adalah momen terbaik untuk mengenang dan menyalakan kembali semangat berkarya,” jelasnya.
Lebih jauh, Asraferi menegaskan bahwa Indonesia berutang rasa hormat pada Chairil Anwar. “Negara ini sangat berterima kasih atas semangat dan cipta karya beliau. Ketenangannya menjadi ilham, semangatnya menjadi nyala bagi kita,” tuturnya.
Chairil Anwar, yang menulis puisi pertamanya “Nisan” di usia muda setelah kehilangan sang nenek, terus melahirkan karya yang mencabik konvensi dan membuka jalan baru bagi sastra Indonesia. Meski meninggal di usia 27 tahun, warisan kata-katanya telah menjadi saksi perjuangan, eksistensi, dan perenungan generasi ke generasi.
Dan malam itu di Bukittinggi, semangatnya kembali hidup. Tidak di atas batu nisan, tapi di antara nafas para penyair muda yang terus menggubah kata menjadi nyala. Di Ladang Rupa, puisi bukan sekadar bacaan, ia adalah perlawanan yang tak pernah padam.(A)
Posting Komentar