50 Kota, - Sejumlah warga yang merupakan korban dampak bencana tanah bergerak di Jorong Aia Angek, Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunuang Omeh merasa kecewa.
Pasalnya, masih ada warga yang terdampak bencana seharusnya mendapatkan bantuan dari pemerintah malahan sama sekali tidak terdata untuk penerima bantuan tersebut.
Hal itu di utarakan oleh Plt Kepala Jorong Aia Angek, niniak mamak serta sejumlah warga terdampak lainnya pada Rabu (1/4) siang di Payakumbuh.
Menurut Plt Kepala Jorong Fadil mengatakan, warga meragukan sejumlah penerima bantuan bencana sehingga terjadi pro kontra pada masyarakat setempat.
"Data tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Ada yang seharusnya mendapatkan bantuan tetapi sama sekali tidak terdata. Seperti pada bantuan rumah hunian sementara dan bantuan stimulan ekonomi," ujarnya.
Untuk bantuan rumah hunian sementara sebanyak 60 unit, ada penerima yang seharusnya tidak layak mendapatkannya karena tidak berdomisili di Aie Angek, dan masih ada warga yang seharusnya layak untuk mendapatkan malahan tidak mendapatkan rumah hunian sementara tersebut.
Berdasarkan datanya, masih ada sekitar beberapa kepala keluarga lainnya yang berhak sebagai penerima bantuan hunian tersebut dengan kondisi rumah mereka memang rusak.
Begitupun terhadap penerima bantuan stimulan ekonomi dan isian rumah senilai Rp 8 juta, juga dinilai tidak tepat sasaran. Ada penerima bantuan yang merupakan perantau di Riau dan bukan berdomisili di kawasan bencana tanah bergerak.
"Ada 150 KK penerima bantuan stimulan ini tetapi ada beberapa KK yang tidak berhak sebagai penerima, dan masih ada beberapa KK lagi yang dirasa berhak menerima tetapi tidak menerima bantuan tersebut" ujarnya lagi.
Untuk menyikapi hal ini maka dilakukan musyawarah oleh plt kepala jorong, bamus, kerapatan niniak mamak, pemuda, dan pemuka masyarakat untuk mendata KK yang belum mendapatkan bantuan stimulan ini.
Dari hasil musyawarah tersebut didapatkan sebanyak 76 KK lagi yang akan di ajukan untuk mendapatkannya dan sudah diajukan oleh plt kepala jorong melalui perangkat nagari.
Salah satu warga terdampak Novita Hermon mengatakan, dirinya merupakan penerima bantuan hunian sementara tetapi tidak masuk sebagai penerima bantuan stimulan ekonomi dan isian rumah senilai Rp 8juta.
"Ada 4 KK yang senasib dengan saya. Kami penerima hunian sementara tetapi tidak menerima bantuan stimulan ekonomi dan isian rumah. Meski demikian saya tetap menetap dirumah bantuan. " katanya.
Warga terdampak lainnya seperti Irwan, Safri, Ijet dan Ismail l merupakan sekelompok nama dari puluhan warga terdampak lainnya yang tidak menerima bantuan apapun dari pemerintah.
"Kami warga terdampak bencana tapi tidak terdata sebagai penerima bantuan. Kami setiap hari beraktifitas dan hidup di daerah kawasan bencana tetapi bantuan tidak pernah mengalir," ujarnya.
Sedangkan, salah satu niniak mamak Aia Angek Despariko Datuak Bandaro Mudo heran dengan pendataan penerima bantuan bencana. "Entah bagaimana bantuan bisa salah sasaran. Ada yang seharusnya mendapatkan bantuan tetapi tidak terdata. Bagaimana kok bisa begini," katanya.
Sementara Bupati Limapuluh Kota Safni yang dihubungi mengakui, sudah mendata penerima bantuan secara teliti sehingga tidak terjadi kesalahan data atau salah sasaran.
"Untuk penerima bantuan dilakukan pendataan bersama antar lintas instansi. Semua OPD terlibat supaya tidak terjadi kesalahan saat pendataan. Saya pun berharap semua masyarakat mendapatkan bantuan," katanya.
Untuk Jorong Aia Angek, kata bupati, merupakan kawasan zona merah untuk tanah bergerak. Jorong tersebut memang tidak layak untuk dihuni dan harus ditinggalkan. (*)

إرسال تعليق