![]() |
| Kasubag Humas Perusda AM Kota Padang, Adhie Zein. (Foto-dok ist) |
Padang, integritasmedia.com - BEGITU ekstrimnya musim kemarau tahun ini. Hanya berselang satu bulan, sekarang sudah berdampak pada penurunan ketersediaan air baku di Kota Padang yang cukup signifikan. Bahkan sejumlah sumber air mengalami penurunan debit hingga 30 persen.
Hal tersebut disampaikan oleh Kasubag Humas Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perusda AM) Kota Padang, Adhie Zein, Selasa (14/4/26). Bahkan dalam keterangannya Adhie lebih lanjut menjelaskan, kondisi ini berdampak langsung terhadap produksi dan distribusi air bersih kepada masyarakat. “Penurunan debit air baku di beberapa sungai menyebabkan produksi air turun sekitar 20 hingga 30 persen. Ini tentu berpengaruh terhadap pola distribusi kepada pelanggan".
Dan, Pegambiran adalah salah satu wilayah yang berpotensi mengalami dampak paling serius, karena wilayah tetsebut dinilai rentan karena bergantung pada intake Gambir yang diketahui paling cepat mengalami kekeringan bila musim kemarau datang, jelas Adhie lagi.
“Secara umum hampir seluruh wilayah berpotensi terdampak, karena sumber air kita bergantung pada sungai. Namun Pegambiran menjadi daerah yang paling cepat merasakan dampaknya,” paparnya.
Seiring menurunnya kapasitas produksi, Perumda AM mulai menerapkan sistem distribusi air secara bergiliran di beberapa wilayah. Jika sebelumnya pelanggan menikmati aliran air selama 24 jam penuh, kini distribusi disesuaikan menjadi siang atau malam hari secara bergantian.
“Ini langkah yang terpaksa kami lakukan agar seluruh pelanggan tetap mendapatkan air, meskipun tidak seperti kondisi normal,” kata Adhie.
Tak hanya itu, tekanan air di sejumlah wilayah juga mengalami penurunan, bahkan ada yang tidak mengalir sama sekali pada waktu tertentu.
Menghadapi potensi kemarau panjang, Perumda Air Minum Kota Padang telah menyiapkan sejumlah langkah strategis, di antaranya:
Optimalisasi produksi air dengan membersihkan intake dari material penghambat
Percepatan perbaikan kebocoran jaringan pipa
Pemetaan wilayah terdampak untuk mitigasi risiko
Pengaturan distribusi air secara merata
Selain itu, bantuan air bersih melalui mobil tangki juga disiapkan secara gratis, baik untuk pelanggan maupun masyarakat umum yang terdampak.
Meski debit air menurun, Perumda memastikan kualitas air tetap menjadi prioritas utama. Pemeriksaan air baku dilakukan secara intensif melalui laboratorium yang telah terakreditasi.
Di sisi lain, masyarakat juga diajak berperan aktif menjaga kualitas sumber air dengan tidak mencemari sungai serta melakukan penghijauan di sekitar bantaran.
Adhie mengingatkan, jika kemarau berlangsung ekstrem, penurunan debit air baku bahkan bisa mencapai hingga 50 persen. Kondisi ini tentu akan semakin menantang operasional pengolahan air.
“Gangguan operasional pasti ada, terutama karena keterbatasan air baku yang membuat pengolahan tidak bisa maksimal,” tambahnya.
Menyikapi situaai ini, Perumda AM mengeluarkan sejumlah imbauan penting kepada masyarakat, di antaranya:
Menggunakan air secara hemat
Menutup kran setelah digunakan
Menyimpan cadangan air
Memastikan instalasi rumah tidak bocor
Tidak membuang sampah atau limbah ke sungai
“Peran masyarakat sangat penting dalam menjaga keberlanjutan air bersih,” tegas Adhie.
Untuk mengatasi persoalan ini secara berkelanjutan, Perumda tengah merancang penguatan infrastruktur, termasuk pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Taban 3 yang akan memanfaatkan sumber air dari Palukahan.
Proyek ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas distribusi serta memperluas akses air bersih bagi masyarakat yang belum terlayani.
Dengan kondisi kemarau yang mulai terasa, sinergi antara pemerintah, Perumda, dan masyarakat menjadi kunci utama agar krisis air bersih di Kota Padang dapat ditekan seminimal mungkin.(mm/ha)
#,KotaPadang #PerumdaAMPadang #MusimKemarau #DebitAirTurun

Posting Komentar