Sijunjung – Pendiri Utama Forum Dinamika Sumatera Barat (FDSB), Nof Hendra, menyarankan seluruh Walinagari se-Sumbar agar keluar dari zona rutinitas jelang penyelenggaraan Musyawarah Besar (MUBES) FDSB 2026.
Saran tersebut disampaikan Nof Hendra di Sijunjung usai melaksanakan aktivitas olahraga jalan kaki pagi melalui pesan WhatsApp kepada awak media, Sabtu (9/5/2026).
“Walinagari jangan hanya terpaku pada kegiatan administratif, seremonial, penyaluran bansos yang datanya itu-itu saja, atau sekadar penjaringan bakal calon kepala jorong,” tegas Nof Hendra.
Ia menegaskan, masyarakat nagari saat ini membutuhkan terobosan nyata. Pertama, pemberdayaan ekonomi untuk seluruh warga. Kedua, pendidikan berkualitas bagi anak-anak. Ketiga, pelayanan kesehatan yang layak. Keempat, pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, fasilitas olahraga, dan fasilitas umum lainnya.
Nof Hendra juga mendorong Walinagari aktif menggerakkan kegiatan positif di nagari. Mulai dari olahraga, kesenian, program mengaji ke surau dan TPA/TPQ, hingga gerakan bersepeda ke sekolah atau bike to school (BTS).
“Jangan biarkan anak-anak nagari hanya main ponsel, game online, dan sepeda motor. Itu berbahaya. Mereka belum cukup umur untuk punya SIM,” ujarnya.
Untuk anak-anak yang sekolahnya jauh, ia menyarankan diantar orang tua atau menggunakan mobil antar-jemput transportasi anak sekolah.
Lebih jauh, Nof Hendra meminta Walinagari memfasilitasi peran masyarakat dan perantau untuk membangun nagari. Program yang didorong meliputi: kegiatan remaja masjid, kursus bahasa Inggris, Arab, dan bahasa asing lainnya, berbagai jenis olahraga seperti sepak bola, futsal, bola voli, sepak takraw, bulu tangkis, tenis meja, renang, lari, jalan kaki, panahan, pelestarian kesenian tradisional, pencak silat dan bela diri lainnya, sosialisasi olahraga dan permainan catur sejak usia dini, olahraga nunchaku dan toya.
Selain itu, ia mengajak Walinagari menggerakkan program kepedulian sosial, gerakan goro massal bersih-bersih lingkungan, cinta lingkungan: air, sungai, hutan, dan udara. Termasuk gerakan hemat kertas, air bersih, dan listrik.
“Walinagari wajib intens koordinasi dan konsultasi dengan semua pihak. Kepala jorong, BPN, niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, tokoh pemuda, camat, kapolsek, kepala sekolah, kepala puskesmas, pengurus masjid, pengurus pasar Kenagarian, BumNag, koperasi, dan lainnya,” tambah Nof Hendra.
Salah seorang warga Kenagarian Lubuk Tarok – Ranah Godok Obuih, Kecamatan Lubuk Tarok, Kabupaten Sijunjung, Erwan alias Mak Keren, menyambut baik saran tersebut.
“Ini masukan yang bagus. Walinagari memang harus berani berinovasi. Jangan cuma tanda tangan, stempel dan foto-foto,” ujar Mak Keren.
Nof Hendra berharap, masukan ini menjadi bahan refleksi para Walinagari jelang MUBES FDSB 2026 yang akan digelar di Padang, 12 September 2026. “Nagari kuat, Sumbar bermartabat,” tutupnya.
*### SELESAI ###*


Posting Komentar