BUKITTINGGI– Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P(K).FISR menyatakan keprihatinannya atas kondisi RSOMH Bukittinggi yang terus dipadati pasien, sementara kapasitas dan fasilitas layanan belum sepenuhnya memadai.
Pernyataan itu disampaikan Wamenkes saat melakukan kunjungan kerja ke RSOMH Bukittinggi, Selasa 13/5/2026 Kunjungan tersebut turut dihadiri Anggota Komisi IX DPR RI Ade Rezki Pratama, SE.MM dan Mantan Walikota Padang Panjang Prof. dr. Suir Syam,
“Kehadiran kami ke sini bukan sekadar agenda seremonial pemerintahan. Di balik kunjungan ini tersimpan kepedulian besar terhadap wajah pelayanan kesehatan di daerah, terutama bagaimana rumah sakit-rumah sakit rujukan terus berjuang menghadapi keterbatasan sumber daya manusia dan fasilitas di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan yang layak,” ujar Wamenkes di sela kunjungan.
Wamenkes mengaku miris melihat ketimpangan antara reputasi besar yang disandang RSOMH Bukittinggi dengan kondisi pelayanan di lapangan.
“Saya cukup miris ketika melihat nama besar seorang tokoh dilekatkan pada rumah sakit, tetapi pasiennya justru membludak dan fasilitas belum sepenuhnya memadai. Nama besar itu seharusnya menjadi tanggung jawab moral untuk memberikan layanan terbaik,” tegasnya.
“Menurutnya, menyematkan nama tokoh besar pada sebuah rumah sakit bukan hanya soal kebanggaan, tetapi juga amanah. Menghormati jasa tokoh tersebut berarti memastikan rumah sakit mampu melayani masyarakat secara maksimal, baik dari sisi tenaga medis, peralatan, maupun sistem layanan.
Ia juga menyoroti pentingnya efektivitas penggunaan anggaran kesehatan dari pemerintah pusat dan daerah. Dana tersebut, kata dia, harus benar-benar diarahkan untuk memperkuat kapasitas rumah sakit rujukan daerah agar tidak terjadi penumpukan pasien dan keterlambatan penanganan.
Anggaran kesehatan harus sampai ke titik yang paling dibutuhkan masyarakat. Jangan sampai ada rumah sakit rujukan yang kewalahan karena fasilitas dan SDM tidak seimbang dengan jumlah pasien,” ujarnya.
“Meski menyoroti sejumlah keterbatasan, Wamenkes mengapresiasi tingginya kepercayaan masyarakat terhadap RSOMH Bukittinggi. Ia menyebut kepercayaan itu sebagai modal sekaligus motivasi bagi manajemen rumah sakit untuk terus berbenah dan berkembang.
“Menurutnya, tingginya kepercayaan masyarakat terhadap RSOMH menjadi motivasi besar bagi rumah sakit untuk terus berkembang,” tulis laporan tersebut.
Salah satu bentuk pengembangan yang tengah dilakukan adalah penguatan layanan unggulan, khususnya *. Saat ini, RSOMH Bukittinggi telah berupaya memangkas alur rujukan yang panjang agar pasien stroke bisa mendapatkan penanganan cepat dan tepat waktu.
Salah satu layanan unggulan yang terus diperkuat adalah penanganan stroke, di mana pasien kini tidak perlu lagi melalui proses rujukan berjenjang untuk mendapatkan pelayanan cepat.
Wamenkes juga menyampaikan target besar RSOMH Bukittinggi ke depan, yaitu menjadi pusat layanan saraf yang modern dan komprehensif di Sumatera Barat.
“Kami ingin ke depan RSOMH Bukittinggi menjadi pusat neuro restorasi. Itu menjadi cita-cita besar kami demi menghadirkan pelayanan kesehatan saraf yang lebih lengkap dan modern,” ujarnya.
Konsep _neuro restorasi_ ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat terhadap layanan penyakit saraf yang selama ini masih banyak dirujuk ke luar daerah. Jika terealisasi, RSOMH Bukittinggi akan menjadi salah satu rujukan utama untuk penanganan kasus neurologi di wilayah Sumatera Barat dan sekitarnya.
Di akhir kunjungan, Wamenkes berharap manajemen RSOMH Bukittinggi segera melakukan evaluasi menyeluruh, baik dari sisi fasilitas, SDM, maupun sistem layanan. Dengan begitu, rumah sakit yang menyandang nama besar ini dapat benar-benar memberikan pelayanan kesehatan yang optimal dan sesuai harapan masyarakat. ,” Ulasnya.

إرسال تعليق