Kontraktor "Basibanak", Proyek APBN Dikerjakan Asal-asalan

(Kiri Atas) Penjab program (PPK) Mashuri. 
(Kiri Bawah) Prosespun dilaksanakan mini kompetisi yang memungkinkan PPK untuk menentukan pemenang
(Kanan) Rigid jalan yang baru dikerjakan CV TP sudah rusak parah akibat disinyalir dikerjakan asal-asalan. (Foto-Dok DB)


Sijunjung, integritasmedia.com -  WALAUPUN masih dalam masa pemeliharaan. Namun, rigid beton yang baru dikerjakan akhir tahun lalu sudah rusak parah. Kerugian negara ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.


Warga transmigrasi satuan pemukiman (SP) Padangtarok, Kecamatan Kamangbaru, Kabupaten Sijunjung, Sumbar, meradang. Rigid beton ke kawasan mereka diduga dikerjakan tidak sesuai klausa kontrak.


Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) kegitan rigid jalan transmigrasi Padangtarok, Mashuri, ketika dikonfirmasi media ini terkesan bungkam.


Padahal, banyak yang ingin dimintai keterang dari Dimas begitu biasa dia disapa. Dimas dikabarkan juga sudah menjalin "hubungan baik" dengan rekanan ini sejak di Dinas PUPR dulu.


Sistim e-purchasing yang diterapkan dalam kompetisi mini ini memungkinan PPK selaku penentu pemenang pelaksana, karena anggarannya diatas Rp200 juta.


Pantauan dilapangan, poros jalan yang dikerjakan CV TP berkisar Rp1,6 miliar dan diharapkan sebagai penunjang ekonomi masyarakat sudah mulai terlihat rapuh.


Rapuhnya ruas jalan ini karena pengerasannya terjadi secara dadakan. Plastik hitam sebagai penahan air bagian dasar rigid juga tidak terlihat. 


Begitu juga hamparan pasir dan batu (sirtu) sebelum plastik hitam itu dihamparkan tidak terlihat sama sekali.


Informasi dilapangan, pengadukan rigid beton juga dilakukan dengan menggunakan escavator mini. Tidak pakai molen. Sehingga, adukan semen bercampur dengan tanah.


Proses pengerjaan yang dilakukan asal jadi inilah yang mengakibatkan mutu jalan tidak sesuai standar yang sudah disepakati dalam kontrak.


Hal ini makin diperparah karena kurangnya pengawasan dari instansi yang terkait. Konsultan pun dinilai lalai dalam melakukan pengawasan.


Nah penjelasan inilah sebenarnya ingin ditanyakan kepada PPK. Namun, hingga berita ini diterbitkan belum didapat kepastian bagaimana proyek ini berjalan.


Penjahat Pembangunan

Modus yang mereka lakukan pun cukup rapi. Antara kontraktor dan pengawas disinyalir terjadi pemufakatan jahat (kompromi) yang terstruktur dan berjalan baik.


Bilamana pengerjaan dilakukan kontraktor lain maka pengawas bekerja ekstra ketat. Bahkan, dicari celah sekecil apapun.


Sebaliknya, bila pekerjaan dilakukan oleh jaringan ini terjadi kongkalingkong dan hasilnya bisa dilihat. Pekerjaan dilakukan asal jadi.


Bukannya pembangunan yang didapat. Malah, ulah komplotan ini daerah yang masih termasuk kategori tertinggal ini makin merana.


Mantan Ketua Gapensi Sijunjung Arsil pun tak memungkiri kejadian ini. Akibatnya, banyak kontraktor kecil yang gulung tikar oleh ulah mafia proyek pembangunan ini.   


"Sebagai orang dekat penguasa harusnya memberi contoh," kata Asril yang berhenti jadi kontraktor akibat keserakahan kelompok ini.(db)


#KabupatenSijunjung #SPPadangtarok #Kamangbaru #RigidBeton @APBN #TidakSesuai #KlausaKontrak

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama