![]() |
| Ketua Lembaga Anti Narkotika Kota Padang, Hj. Yuliar. (Foto-dok ist) |
Padang, integritasmedia.com - KETUA Lembaga Anti Narkotika (LAN) Kota Padang, Hj. Yuliar, S.Sos., MM, menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap semakin luasnya dampak penyalahgunaan narkotika yang dinilai telah menggerogoti berbagai sendi kehidupan masyarakat. Menurutnya, narkotika tidak hanya merusak kesehatan dan masa depan generasi muda, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi kelestarian adat, agama, serta falsafah hidup masyarakat Minangkabau.
Hj. Yuliar mengatakan, berdasarkan berbagai temuan dan pengalaman pendampingan di lapangan, penyalahgunaan narkotika kerap berkaitan dengan munculnya berbagai persoalan sosial, seperti tindak kriminal, kekerasan dalam rumah tangga, pencurian, hingga praktik eksploitasi seksual dan prostitusi.
Menurutnya, tidak sedikit penyalahguna narkotika yang akhirnya kehilangan pekerjaan, dijauhi keluarga, terjerat utang, bahkan mengorbankan martabat demi memperoleh uang untuk membeli narkotika.
"Ini bukan sekadar angka, tetapi jeritan yang kami temui di lapangan. Dalam banyak kasus yang kami dampingi, penyalahgunaan narkotika menjadi pintu masuk lahirnya berbagai persoalan sosial, termasuk prostitusi. Begitu candu menguasai tubuh, iman melemah, akal sehat terganggu, dan harga diri pun dipertaruhkan. Inilah wajah paling kejam dari narkotika," tegas Hj. Yuliar.
Hj. Yuliar menjelaskan bahwa ketergantungan terhadap narkotika merupakan kondisi yang dapat mengubah cara berpikir, perilaku, serta kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan. Ketika ketergantungan semakin berat, dorongan untuk memperoleh narkotika dapat membuat seseorang melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Menurutnya, kondisi tersebut bukan lagi sekadar persoalan individu, melainkan telah menjadi ancaman terhadap ketahanan keluarga, kehidupan sosial, dan masa depan generasi muda di Kota Padang maupun Sumatera Barat.
Lebih jauh, Hj. Yuliar menilai ancaman narkotika telah memasuki tahap yang sangat mengkhawatirkan karena tidak hanya merusak fisik manusia, tetapi juga mengikis nilai-nilai moral yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Minangkabau.
"Narkotika bukan sekadar merusak badan. Ia adalah pembunuh senyap adat dan agama. Perlahan ia mematikan hati nurani, menghilangkan rasa malu, memutus hubungan anak dengan orang tua, merusak keharmonisan rumah tangga, dan menghancurkan masa depan keluarga."
Ia menambahkan, falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) yang selama ratusan tahun menjadi pedoman hidup masyarakat Minangkabau hanya akan tetap kokoh apabila nilai-nilai agama, adat, dan pendidikan karakter terus dijaga bersama.
Namun, apabila penyalahgunaan narkotika terus dibiarkan berkembang, menurut Hj. Yuliar, maka yang terancam runtuh bukan hanya kehidupan para korbannya, tetapi juga marwah Ranah Minang sebagai daerah yang menjunjung tinggi adat dan syariat.
"Narkotika menghabisi iman, merobohkan rasa malu, dan memaksa manusia kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya. Kalau ini terus dibiarkan, jangan lagi kita bangga menyebut Sumatera Barat sebagai ranah beradat."
Hj. Yuliar mengajak seluruh unsur masyarakat agar tidak lagi memandang persoalan narkotika semata-mata sebagai urusan aparat penegak hukum. Ia menegaskan bahwa perang melawan narkotika merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Menurutnya, keluarga harus kembali diperkuat sebagai benteng pertama dalam membentuk karakter anak. Niniak mamak perlu kembali menjalankan fungsi pembinaan terhadap kemenakan. Bundo Kanduang harus terus menanamkan nilai-nilai moral dalam keluarga. Alim ulama, cadiak pandai, dunia pendidikan, organisasi kepemudaan, serta pemerintah juga harus bersinergi menghidupkan kembali budaya malu, budaya mengaji, dan semangat menjaga kampung dari ancaman narkotika.
Hj. Yuliar juga mendorong agar gerakan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) tidak hanya berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi diwujudkan menjadi gerakan nyata yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat hingga tingkat kelurahan, sekolah, kampus, dan lingkungan keluarga.
"Kalau kita ingin menyelamatkan Ranah Minang, maka yang harus kita selamatkan lebih dahulu adalah generasi mudanya. Jangan biarkan narkotika merampas masa depan mereka. Mari kita satukan langkah, menjaga adat, memperkuat agama, serta bersama-sama menyatakan perang terhadap narkotika demi Kota Padang dan Sumatera Barat yang bersih, bermartabat, dan bebas dari penyalahgunaan narkotika," tutup Hj. Yuliar.(Firman Sikumbang)
#Padang #LANKotaPadang #P4GN #NarkotikaPembunuhSenyap #LindungiMasaDepan #GenerasiMinang #Adat #Agama

Posting Komentar