Masyarakat Gunung Melintang Tolak PETI Beroperasi Sebelum Terlambat
Limapuluh Kota. Integritasmedia.com-Para penambang emas Ilegal ( PETI ) kini beberapa orang oknum yang tidak diketahui jati dirinya, mulai mengembangkan sayapnya ke daerah Gunung Malintang kecamatan Pangkalan Limapuluh Kota.Para oknum tersebut tak puas dari wilayah nagari Gelugur kecamatan Kp IX Limapuluh Kota untuk menambang emas secara ilegal tersebut.
Beruntung, ratusan warga yang terdiri dari unsur masyarakat, Niniak Mamak, tokoh adat, agama, hingga pemuda di Nagari Gunuang Malintang, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, melancarkan aksi demonstrasi damai beberapa hari lalu.
Langkah tegas ini diambil sebagai benteng pertahanan terakhir untuk menolak keras rencana masuknya alat berat guna aktivitas penambangan emas ilegal di aliran Sungai Batang Maek.
Aksi solidaritas yang memuncak ini berpusat di Jorong Batu Balah, tepatnya di halaman Kantor Kerapatan Adat Nagari (KAN) Gunuang Malintang. Kehadiran warga dari berbagai lapisan menjadi bukti nyata kekhawatiran mendalam akan ancaman kerusakan lingkungan yang mengintai jika eksploitasi skala besar dibiarkan merambah wilayah mereka.
Waspada Persiapan Masuk Alat Berat
Meskipun hingga saat ini belum ada unit alat berat yang terlihat beroperasi secara fisik, kecurigaan warga sangat beralasan. Pantauan langsung di lapangan mengindikasikan adanya gerakan persiapan yang mencurigakan, mulai dari pembukaan akses jalan khusus hingga pendirian bedeng-bedeng sementara yang disinyalir sebagai langkah awal untuk memasukkan peralatan tambang.
Warga menegaskan, Sungai Batang Maek adalah sumber kehidupan yang tidak ternilai harganya. Jika pencegahan tidak dilakukan sejak dini, kerusakan yang ditimbulkan akibat operasi alat berat akan bersifat permanen dan sulit diperbaiki.
Kesepakatan Bulat Seluruh Unsur Nagari
Merespons ancaman tersebut, musyawarah darurat telah digelar di Kantor KAN yang dihadiri penuh oleh elemen pemangku kepentingan nagari: Niniak Mamak, Alim Ulama, Cadiak Pandai, Pemerintah Nagari, Kepala Jorong, Ketua Pemuda, dan seluruh lapisan masyarakat.
Hasilnya mutlak dan tidak tergoyahkan: penolakan bulat terhadap segala bentuk penambangan menggunakan alat berat.
"Kami sadar, lebih baik mencegah sejak akar masalahnya muncul dari pada menyesal setelah alam kami hancur lebur," demikian bunyi pernyataan sikap bersama yang disepakati seluruh elemen warga.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di lokasi terpantau kondusif namun tetap dalam status siaga tinggi. Warga berkomitmen untuk terus mengawasi setiap pergerakan mencurigakan di sekitar aliran Sungai Batang Maek demi menjaga warisan alam bagi generasi mendatang.
PETI Gelugur Tetap Aktif
Sempat hening sejenak dari pemberitaan media massa, terkait dengan aktifitas tambang emas di nagari Gelugur Kp.IX ( PETI ), namun menurut sumber berita ini kegiatan tambang berjalan terus dengan mengoperasikan puluhan alat-alat berat, dan informasi dari masyarakat daerah sekitarnya bahwa sekarang alat berat untuk PETI tersebut terus bertambah untuk mengeruk hasil bumi yang akan merusak ekosistem lingkungan dan akan menimbulkan dampak yang besar nantinya bagi masyarakat setempat dan daerah sekitarnya serta daerah yang di aliri oleh sungai batang kampar.
Tampaknya kegiatan ini tidak bisa terbendung kendati alamnya sudah banyak yang rusak lainnya.
Pemerintah kabupaten Limapuluh Kota dalam hal ini tidak bisa bertindak apalagi untuk menghentikan tambang itu.
Suara anggota DPRD yang menyoroti kegiatan ini agar bupati Safni Sikumbang menghentikan Peti ini, namun bupati seakan tidak mendengarkan kritikan DPRD ini.
Wartawan media ini yang ingin konfirmasi dengan bupati melalui telpon genggamnya tidak menjawab dan WA pun tidak dibaca.
Akan dikemanakan atau mau diapakan nagari Gelugur yang paling ujung di wilayah Kabupaten Limapuluh Kota Sumbar ini, setelah bekas galian jadi danau buatan, masyarakatnya mau diapakan.
Sungai Batang Kampar yang meliwati Gelugur, Koto Tangah dan Tanjung Jajaran kini mulai mendangkal akibat timbunan tanah bekas galian mencari emas.
Sementara masyarakat di dua kecamatan dalam Kabupaten Kampar Riau mengeluh akibat air sungai yang biasa ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari jernih, kini berobah jadi kuning.
Pesakitan warga di dua kecamatan Kampar Riau ini telah disampaikan bupati Kampar ke bupati Limapuluh Kota namun tidak ditanggapi secara benar dan serius.( AC DT )

Posting Komentar