Padang, integritasmedia.com - DI tengah eloknya alam Minangkabau yang membentang dari pucak-pucak gunuang nan menghijau hingga ke samudera, warisan adat yang seharusnya kokoh bak karang justru diuji arus zaman. Kegelisahan itulah yang mendorong Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang bersama Ratu Prabu Sumbar menggelar Forum Diskusi Terbuka bertajuk "Mengembalikan Minangkabau nan Sabana: Warisan Budaya, Umat, dan Masa Depan".
Forum korektif ini akan digelar pada Senin, 26 Oktober 2026, pukul 09.00 - 12.00 WIB di Ruang Pertemuan Lantai 4, Hotel My All, Jalan Samudra, Simpang Olo, Padang.
Wakil Ketua Umum LKAAM Sumbar, H. Epi Radisman, S.H. Dt. Paduko Alam, yang juga Budayawan Minangkabau menegaskan, forum ini bukan seremoni belaka di balik dinginnya ruangan ber-AC. Lebih dari itu, ia adalah upaya menjernihkan kembali air yang keruh, meluruskan kembali batang yang bengkok dalam adat.
"Selama ini banyak yang bicara Minangkabau, tapi Minangkabau nan sabana-nya hilang. Ibarat alam, rimbo lah hilang, aie lah karuah. Adat salingka nagari, pusako salingka kaum, filosofi Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK) mulai luntur oleh arus modernisasi dan tafsir yang keliru. Forum ini kita gagas untuk mengembalikan marwah itu pada tempatnya," ujar Epi Radisman Dt. Paduko Alam kepada wartawan, Selasa (21/10/2026).
Menurut Dt. Paduko Alam, persoalan Minangkabau hari ini bak benang kusut. Sengketa harta pusaka tinggi dan pusaka randah yang tak berkesudahan, melemahnya peran tungku tigo sajarangan - niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai - serta surutnya peran bundo kanduang di nagari, hingga hilangnya pedoman bagi generasi muda di rantau.
"Padahal dalam adat Minangkabau jelas, harta pusaka adalah milik niniak mamak pemangku adat dan bundo kanduang sebagai kesatuan masyarakat hukum adat. Dijua indak dimakan bali, digadai indak dimakan sando. Kalau prinsip nan sakral ini saja sudah kabur, bagaimana kita mau bicara masa depan Minangkabau?" tegasnya.
Untuk membedah persoalan secara komprehensif, forum ini menghadirkan pemikir lintas disiplin, dari budayawan, seniman, hingga akademisi:
Bertindak selaku Narasumber, Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto - Budayawan (Mak Katik), H. Epi Radisman, S.H. Dt. Paduko Alam - Budayawan, Wakil Ketua Umum LKAAM Sumbar.
![]() |
| Wakil Ketua Umum LKAAM Sumbar, H. Epi Radisman, S.H. Dt. Paduko Alam. (Foto-Dok Ist) |
Narasumber ketiga Dra. Hj. Sastri Yunizarti Bakry, M.Si., Akt. - Seniman, Ketua Umum Satupena Sumbar.
Sementara Pembahas dan Perumus kegiatan, Prof. Pramono, S.S., M.Si., Ph.D. - Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, Prof. Dr. Asril, S.Kar., M.Hum. - Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang.
Epi Radisman Dt Paduko Alam menambahkan, hasil diskusi tidak akan berhenti menjadi buih di atas kertas. Tim perumus akan melahirkan rekomendasi tertulis sebagai peta jalan untuk pemerintah daerah, Kerapatan Adat Nagari (KAN), LKAAM Kabupaten/Kota, dan seluruh pemangku kepentingan adat.
"Kita ingin mengembalikan fungsi tungku tigo sajarangan, tali tigo sapilin dalam makna yang hakiki. Adat bukan sekadar untuk tontonan wisata, bukan hiasan di bibir pantai. Adat adalah sistem hidup, seperti alam yang memberi kehidupan. Itu yang kita sebut Minangkabau nan Sabana," pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Dr. Sastra Munafri, S.Sn., M.Sn. dan Penggagas acara Jhoni Sikumbang, Ketua Ratu Prabu Sumbar menyebut forum ini terbuka untuk umum. Khususnya bagi niniak mamak, bundo kanduang, akademisi, seniman, mahasiswa, dan pemerhati budaya Minangkabau.
Dengan tagline "Bersama Kita Jaga Minangkabau", panitia berharap forum ini menjadi titik balik kesadaran kolektif. Menjaga warisan budaya yang bukan hanya milik masa lalu, tetapi juga penentu arah umat dan masa depan Minangkabau di tengah perubahan zaman.(db)
#SumateraBarat #Minangkabau #LKAAM #ISIPadangPanjang #RatuPrabuSumbar #LuruskanJatiDiriAdat #JagaMinangkabau #ABS-SBK


Posting Komentar