Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

MITRA

Iklan

Iklan

iklan banner

Tag Terpopuler

Hancurnya Terminal Tipe A Anak Air Sebelum Dimanfaatkan

Senin, 19 April 2021 | April 19, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-04-20T11:42:18Z

Ada dugaan bahwa pembangunan Terminal Tipe A Anak Air Padang (Prioritas Nasional), dengan nilai Rp. 65 Miliar lebih tahun anggaran APBN 2019 dan APBN 2020, yang dikerjakan oleh PT. Multi Karya Pratama, penuh penyimpangan. Terbukti dengan banyaknya pekerjaannya yang telah hancur sebelum dimanfaatkan.


Padang, integritasmedia.com - BANYAK kalangan mempertanyakan hasil pekerjaan Proyek Pembangunan Terminal Tipe A Anak Air Padang, yang dikerjakan oleh PT. Multi Karya Pratama dengan nilai Rp. 65 Miliar lebih. Pasalnya, hasil pekerjaannya sudah banyak yang terlihat hancur, padahal infrastruktur tersebut belum dimanfaatkan sama sekali.

Saat integritas melakukan investigasi ke lokasi Proyek Pembangunan Terminal Tipe A Anak Air tersebut, terlihat drainase sudah retak dan tergelupas. Lubang bekas tiang pagar pada drainase tidak ditutupi kembali dengan sempurna. Jalan betonnya sudah pada retak dan maram (turun). Dinding lantai gedung banyak yang retak-retak.

Dan sampai hari ini Selasa (20/4/21) Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wilayah III Provinsi Sumbar, Deny Kusdyana tidak menjawab konfirmasi integritas terkait hasil pekerjaan Proyek Pembangunan Terminal Tipe A Anak Air Padang tersebut.


Sementara itu Yufrizal, TS  salah seorang pelaku konstruksi di Kota Padang, menerangkan sehubungan dengan hasil kerja pada Pembangunan Terminal Tipe A Anak Air mengatakan, mulai dari pekerjaan drainase beserta pagarnya, jalan beton dan dinding beton lantai gedung terlihat dikerjakan secara serampangan. Drainasenya yang sudah retak, tergelupas dan hancur. Serta jalan beton juga sudah ada yang retak, berlobang bahkan ada maram. Bahkan dinding lantai juga sudah ada yang retak-retak.

Dijelaskan Yufrizal pada pekerjaan jalan beton yang retak, berlobang dan turun itu, dikarenakan oleh betonnya yang keropos. Hal ini disebabkan antara lain karena pemakaian bekisting yang kotor. Ini bisa terjadi pada penggunaan bekisting untuk yang kedua, ketiga atau kesekian kalinya. Masalahnya yaitu, ada sisa beton yang menempel pada permukaan bekisting dan tidak dibersihkan secara sempurna, atau karena kurang air. Kekurangan air pada adukan semen bisa menyebabkan agregat tidak bisa tercampur dengan sempurna, sehingga beton berpotensi keropos.


Dan juga mungkin kekurang semen. Kekurangan bahan perekat bisa menyebabkan material pasir atau kerikil tidak bisa merekat dengan sempurna, atau adukan tidak tercampur rata. Kasus ini hampir sama kekeroposan akibat kekurangan semen. Bedanya disini adalah yang keropos hanya terletak pada sisi yang tidak tercampur dengan bagus. Dan mungkin pemadatan kurang sempurna. Ini terjadi saat pelaksanaan pengecoran, dimana ada sisi ruang kosong yang tidak terisi oleh adukan.

Atau karena struktur tidak kuat. Bisa jadi ada tambahan beban diatas batas perencanaan atau memang struktur yang dibuat tidak memenuhi persyaratan kekuatan yang dibutuhkan, sehingga mengalami kegagalan struktur berupa kerusakan beton.

Dan terakhir karena bekisting tidak rapat. Ini menyebabkan air semen keluar, sehingga pasir dan koral kekurangan bahan perekat, ujarnya.

Lebih lanjut Yufrizal mengatakan, pada permukaan jalan beton terlihat kecoklatan. Ini disebabkan adanya indikasi pemakaian semen tidak sesuai dengan Job Mix Formula yang dikeluarkan labor uji bahan. Sehingga mutu beton tidak mencapai nilai uji mutu yang diisyaratkan. Begitu juga pada permukaan tanah jalan beton yang tidak padat. Hal ini akan menyebabkan terjadinya penurunan tanah akibat pembebanan struktur atau tergerus oleh aliran air yang selanjutnya terjadi kekosongan pada pondasi jalan beton. Hal ini mengakibatkan juga terhadap kestabilan struktur yang akan membuat jalan beton retak dan roboh.

Untuk pekerjaan drainase beserta pagarnya Yufrizal mengatakan, diduga pada awal pekerjaan drainase tidak memakai anstamping. Begitu juga pada pekerjaan pasangan batunya, spesi pasangan batu terlalu dekat bahkan ada yang saling bersentuhan. Pada bagian dalam pasangan batu banyak yang kopong atau tidak diselimuti adukan semen. Retak pada pasangan batu dengan semen itu terjadi karena metoda pelaksanaan pekerjaan pasangan batu yang teknik pengerjaan kurang baik. Adukan plaster yang kurang padat dan masih berongga pada sisi dalamnya. Ini bisa terjadi karena kurang tekan pada saat pelaksanaan plesteran. 

Karena kurang padat tersebut terdapat rongga/keropos antara batu dengan adukan semen yang akan menyebabkan kestabilan struktur pasangan batu menahan beban dari samping akan berkurang. Retak pada struktur ini lama-kelamaan akan semakin besar/parah, sehingga akan menyebabkan kegagalan struktur (runtuh). Ditambah dengan kualitas adukan mortalnya tidak memenuhi standar takaran uji laboratorium (perbandingan semen 1 : pasir 4). Apabila tidak ada ditentukan secara khusus, yang seharusnya berdasarkan persyaratan adukan semen untuk pasangan harus mempunyai kuat tekan paling sedikit 50/cm2 (5 Mpa), maka drainase tersebut akan cepat retak dan runtuh, katanya.

Parahnya, pada pekerjaan pagar, drainase yang dibongkar untuk tiang pagar tidak ditutupi kembali dengan sempurna. Lubang bekas tiang pagar hanya sebagian saja ditutupi dengan batu yang disusun, sedangkan adukan semen sedikit saja.

Untuk keretakan pada dinding dan lantai diduga disebabkan oleh acian dikerjakan sebelum plester kering dengan sempurna atau proses penyusutannya belum selesai. Takaran campuran plester atau acian tidak sesuai dengan ketentuan. Bisa juga pasir yang digunakan kotor serta metode pelaksanaannya bisa juga salah, akhirnya. (ha)

iklan banner

Liputan Khusus

Bedah Kasus

iklan banner

Pendidikan

Hukum dan Kriminal

iklan banner
×
Berita Terbaru Update