*Jangan Lupakan Sejarah, Banyak Pejabat Tak Paham Sejarah,Alergi dengan Tan Malaka*.

 

                     Ferizal Ridwan ( Fery Buya )

LIMAPULUH KOTA, --  “Walau Sudah Lama Wafat dan Gelar Pahlawan Kemerdekaan, namun Ibrahim Dt. Tan Malaka tetap dinyatakan sebagai musuh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat atau Pemerintah propinsi dan kabupaten limapuluh kota alergi dengan Tan Malaka,  karena banyak pejabat yang buta sejarah dan karena Tan Malaka pernah aktif di partai komunis internasional atau Gerakan kiri. Menurut Ferizal yang akrab dengan Feri Buya jika ini tidak diluruskan maka pandangan generasi akan datang akan tetap keliru, disamping Bahkan bisa jadi, program pemerintah pusat yang mulai serius untuk membangun situs cagar budaya rumah kelahiran dan makam Tan Malaka, akan sulit terealisasi.”


                                 Tan Malaka

Pernyataan tersebut dikemukakan Ferizal Ridwan, Ketua Yayasan Ibrahim Dt. Tan Malaka,(IBRATAMA)  sekenaan dengan pertanyaan Ombusmen RI, terhadap video Mars Sumatera Barat yang menayangkan para pahlawan asal Minangkabau.

Lebih tegasnya, Buya, sapaan akrab Ferizal Ridwan, dia juga mempertanyakan ketidak beradaan potret Tan Malaka di deretan para pahlawan Sumbar, kepada pemerintah propinsi  yang saat itu dijabat Irwan Prayitno.

Maka.menurut Buya, wajar saja jika Gubernur saat ini yang merupakan separtai juga kurang peduli dan mereka mewariskan sikap anti pati,alergi dan bahkan cenderung mewarisi kebencian  kepada Tan Malaka. Yang dikaitkan dengan Komunis nya Tan Malaka. Padahal partai komunis yang di pimpin Tan Malaka itu ,tidak beberapa lama dan 20 tahun sebelum Republik  Indonesia ada, dan kemudian  malah Tan Malaka menjadi musuh utama komunis pula pada tahun 1926 sampai tahun 1949, sampai Tan Malaka di eksekusi oleh tentara Republik yang ia gahas, 

Perlu diketahui pula bahwa semenjak Tan Berpidato tentang ide merangkul Islam, 

“Padahal sejarah mencatat, bahwa gagasan nama dan bentuk negara jika merdeka adalah Republik Indonesia. Persis seperti buku yang ditulisnya di Belanda Naar de Republik Indonesia,” jelas Feri Buya.

Sebagai Ketua Yayasan Ibrahim Tan Malaka, Ferizal Ridwan sangat menyayangkan sikap kebencian dan tidak punya rasa terima kasih kepada Bapak Republik Indonesia yang dilakukan oleh pemerintahan Sumatera Barat, baik Eksekutif, Legislatif maupun yudikatif dan juga Pemda Limapuluh kota khususnya. Tan Maslaka masih dijadikan musuh warisan. “Tentu saja warisan Kolonial,” ujar Feri Buya.

Menurutnya, kebencian yang diwariskan tersebut, juga diperkuat dengan penulisan sejarah atau bahkan fitnah sejarah yang dilontarkan kepada maayarakat. Apalagi terhadap umat Islam, sering kita mendengar pernyataan konyol dari mereka, bahwa Tan Malaka adalah seorang Ateis, komunis dan gerakan kiri.

"Mereka lupa, bahwa betapa tegasnya pidatonTan di Kremlin, bahwa partai Komunis adalah alat perjuangan menuju Kemerdekaan. Maka untuk mencapai Kemerdekaan, sangat baik dan kuat, jika kaum proletar di Indonesia menggandeng tangan saudara senasib sepenanggungan, seperti gerakan yang telah di rintis Partai Syarekat Islam yang dipimpin H. O S Tjokroaminoto.

Mau tidak mau, jika kita mau besar dan kuat, kita harus berjuang dengan gerakan PAN Islamisme yang digagas Tjokroaminoto.

Pada kesempatan tersebut, Tan jadi cecaran pertanyaan keras dari Stalin, termasuk soal keyakinan beragamanTan. Maka, Tan Malaka dengan tegas, dalam pidato dan debat selama 3 jam tersebut menyatakan, bahwa di hadapan manusia, saya adalah seorang komunis, namun dihadapan tuhannya, saya adalah seorang muslim. Setidaknya begitulah Tan mengakui soal keyakinan bertauhid dihadapan sidang Comintern di Kremli sekitar tahun 1926. Dua tahun pasca runtuhnya Kekhalifahan Ustmaniyah atau Otoman.

Lebih tegas lagi Feri Buya mengatakan, bahwa Tan bukan hanya seorang yang bermain di ranah teori belaka, namun beliau juga mengeksekusinya dengan bergerilya bersama Soedirman, Bung Tomo, Suprijadi dan lainnya.

Bahkan, Tan Malaka lah yang mendesak KH Hasyim Asyari, selaku pimpinan tertinggi NU untuk mengeluarkan Resolusi Jihad. Kemudian.menjadi sebuah gerakan perlawanan terhadap Tentara Sekutu dan Nica yang membonceng, hingga menewaskan  Jend. Malabey, dan dikenang sebagai hari Pahlawan 10 November.

Untuk itu, imbuh Ferizal, dipenghujung percakapan, Tan Malaka adalah seorang yang telah ditetapkan sebagai pahlawan kemerdekaan Indonesia sesuai Kepres 53 tahun 1963. Maka dalam posisi ini kami dari Yayasan Perlu meluruskan Sejarah dan meletakan secara proposional, "ini sejarah bukan urusan politik".

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama