Ferizal Ridwan
LIMAPULUH KOTA — Ketua Yayasan Ibrahim Tan Malaka (IBRATAMA), Ferizal Ridwan, mempertanyakan sikap Pemerintah Provinsi Sumatera Barat yang dinilai belum menunjukkan komitmen serius dalam mengangkat kembali warisan sejarah Tan Malaka.
Sorotan itu menguat setelah muncul pertanyaan dari Ketua Ombudsman RI terkait tidak dicantumkannya nama dan potret Tan Malaka dalam video lagu Mars Sumatera Barat yang menampilkan deretan pahlawan asal Minangkabau.
Ferizal, yang akrab disapa Feri Buya, menilai ketiadaan nama Tan Malaka dalam materi resmi pemerintah daerah bukan persoalan sepele. Ia menyebut hal itu mencerminkan lemahnya pemahaman sejarah di kalangan pejabat daerah dan alerginya karena Tan Malaka pernah aktif di Partai Komunis.
“Pejabat kita, terutama di Sumbar, seharusnya lebih melek sejarah yang benar,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (24/2/2026).
Menurut Ferizal, Tan Malaka bukan hanya tokoh pergerakan, tetapi juga sosok yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 53 Tahun 1963.
Karena itu, ia mempertanyakan mengapa figur tersebut belum mendapat ruang representasi yang layak dalam narasi resmi pemerintah provinsi.
Selain soal video Mars Sumatera Barat, Ferizal juga menyinggung belum kunjung terealisasinya program pembangunan situs cagar budaya di rumah kelahiran Tan Malaka di Nagari Pandam Gadang, Kabupaten Limapuluh Kota.
Ia menyebut sejumlah wacana dari pemerintah pusat belum ditindaklanjuti secara optimal di tingkat provinsi.
“Sudah beberapa kali ada pembicaraan untuk membangun dan mengembangkan situs cagar budaya rumah kelahiran beliau, tetapi tidak pernah ditanggapi serius sehingga sulit terealisasi,” kata Ferizal.
Ia juga mengaitkan sikap tersebut dengan kepemimpinan gubernur sebelumnya, hingga Gubernur saat ini, Ferizal berpendapat, masih ada pandangan yang cenderung antipati atau alergi terhadap Tan Malaka, terutama karena latar belakang sejarahnya yang pernah beririsan dengan 'gerakan kiri' atau komunis.
Secara historis, Tan Malaka memang pernah terlibat dalam gerakan komunis internasional pada masa kolonialisme, jauh sebelum Indonesia merdeka. Namun, Ferizal menegaskan, langkah itu merupakan strategi politik dalam konteks perjuangan melawan imperialisme Belanda.
“Saat itu, kekuatan yang mampu mengimbangi kolonialisme hanya Komunis Internasional yang berpusat di Uni Soviet,” ujarnya.
Ferizal juga merujuk pada pidato Tan Malaka di forum internasional di Uni Soviet yang membahas Pan-Islamisme. Dalam pandangan Tan Malaka, Pan-Islamisme dipahami sebagai kekuatan politik anti-imperialisme yang potensial di negeri-negeri terjajah di Asia dan Afrika.
Menurut Ferizal, Tan Malaka tidak memandang Islam sebagai musuh gerakan revolusioner.
Sebaliknya, ia menilai gerakan kiri perlu bekerja sama dengan kekuatan Islam progresif dalam melawan kolonialisme di Hindia Belanda.
Pendekatan itu, kata dia, menunjukkan fleksibilitas strategi politik Tan Malaka pada masanya.
Dalam perkembangan politik setelah kemerdekaan, Tan Malaka juga tercatat mendirikan Partai Murba dan berseberangan dengan Partai Komunis Indonesia.
Ferizal menyebut fakta ini kerap luput dari pembacaan sejarah publik yang cenderung menyederhanakan posisi ideologis Tan Malaka.
Selain itu, Ferizal mengingatkan kontribusi intelektual Tan Malaka, termasuk gagasannya tentang bentuk negara republik yang dituangkan dalam buku Naar de Republiek Indonesia yang ditulis di Belanda.
Ia menyebut konsep tersebut menjadi salah satu referensi awal tentang gagasan Republik Indonesia sebelum kemerdekaan diproklamasikan.
Ferizal berharap pemerintah propinsi dan daerah khususnya limapuluh kota dapat menempatkan Tan Malaka secara proporsional dalam sejarah perjuangan bangsa.
“Tan Malaka sudah ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Sudah semestinya ada penghargaan yang layak dan objektif terhadap jasa-jasanya,” tuturnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terkait tanggapan atas pernyataan tersebut, maupun penjelasan mengenai absennya nama Tan Malaka dalam video Mars Sumatera Barat. (*)


Posting Komentar