Perhelatan Internasional ini dihadiri oleh 36 delegasi dari 36 negara yang mengikuti rangkaian acara, termasuk perhelatan budaya International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4.
Perhelatan 100 tahun jam Gadang ini diwarnai dengan berbagai pertunjukan seni Minangkabau, pawai budaya, kaligrafi sepanjang 100 meter, dan festival film Bukittinggi East Film Festival (BEFF) di kawasan pedestrian Jam Gadang.
Acara 100 tahun jam Gadang ini mendapatkan dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan, Kementerian Pariwisata, serta Injourney untuk melestarikan cagar budaya bersejarah ini.
Jam Gadang sendiri merupakan hadiah dari Ratu Belanda Wilhelmina kepada Hendrik Roelof Rookmaaker, sekretaris kota Fort de Kock (kini Bukittinggi), yang mulai dibangun pada tahun 1926 dan selesai pada 1927.
Peringatan satu abad atau 100 tahun Jam Gadang di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, terdiri dari beragam kegiatan seni dan budaya berskala internasional. "Jam Gadang tidak perlu dikenalkan secara nasional lagi, sudah harus dikenalkan di tingkat Internasional. Ada 20 kegiatan dimulai awal Juni dan puncak di 21 Juni. Sebanyak 36 delegasi dan duta besar dari beragam negara hadir," kata Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias.
Di antara negara yang berpartisipasi, antara lain Australia, Inggris, Jerman, Rusia, India, Korea Selatan, Jepang, Amerika Serikat, Spanyol, hingga Palestina dan Yaman.
Para peserta festival terbagi ke dalam beberapa kategori unik. Ada 122 orang yang masuk sebagai peserta biasa, kemudian ada 20 orang yang bertindak sebagai pembicara atau speaker.
Sementara itu, ada 19 orang mengisi sesi peluncuran buku, serta ada 63 pembaca puisi dan 35 pelaku pertunjukan seni yang siap menghibur.
Wisatawan bisa menikmati banyak aktivitas di sekitar kawasan Pasa Ateh dan area pelataran Jam Gadang, di antaranya pameran buku, bazar produk UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah), serta aksi melukis langsung atau live painting.
Bagi pencinta sejarah, ada Seminar Utama di Balairung yang berfokus membahas sejarah Jam Gadang. Para ahli membedah eksistensi ikon kota ini dari berbagai perspektif.
Selain itu, ada juga lomba mewarnai bagi anak-anak di sekitar Jam Gadang. "Dampak dan persiapan teknis Melalui estimasi kunjungan mencapai 500 hingga 1.000 penonton per hari, perhelatan IMLF-4 diharapkan mampu menggerakkan roda ekonomi kreatif lokal, khususnya bagi ratusan pengusaha UMKM," tutur Ramlan.
Bukittinggi East Film Festival (BEFF) tersebut berlangsung dari 14 hingga 19 Juni 2026 di kawasan Pedestrian Jam Gadang. Festival film edisi perdana ini menampilkan sejumlah film dari negara-negara Asia Tenggara, seperti Brunei Darussalam, Indonesia, Singapura dan Malaysia, yang mengangkat nilai seni, budaya serta pendidikan bagi masyarakat.
Menurut Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, BEFF merupakan bagian dari rangkaian peringatan Satu Abad Jam Gadang. Festival ini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga media edukasi dan pelestarian budaya melalui karya perfilman, katanya.
Dikatakannya, Film tidak hanya menjadi tontonan belaka, tetapi juga tuntunan. Melalui festival ini masyarakat dapat menikmati karya-karya film yang sarat dengan nilai seni, budaya dan pendidikan. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam memeriahkan peringatan seratus tahun Jam Gadang, ujarnya.
Wako berharap agar perfilman dapat kembali berkembang di Bukittinggi. Kota Bukittinggi ini memiliki banyak potensi sejarah, perjuangan, pendidikan dan budaya yang layak diangkat menjadi karya film. Pemerintah Kota Bukittinggi juga terus berupaya menghadirkan kembali fasilitas bioskop sebagai sarana pendukung industri kreatif dan hiburan masyarakat.
Adapun film yang ditayangkan selama pelaksanaan Bukittinggi East Film Festival (BEFF) 2026 yakni Yasmine dari Brunei Darussalam pada 14 Juni, Harimau Tjampa dari Indonesia pada 15 Juni, Mencari Hajar dari Singapura pada 16 Juni, Negeri 5 Menara dari Indonesia pada 17 Juni, Raja Melewar 18 Juni dan Kulari ke Pantai dari Indonesia pada 19 Juni 2026.
usia satu abad pada tahun 2026, Jam Gadang tetap berdiri megah sebagai simbol kebanggaan masyarakat Minangkabau dan salah satu ikon pariwisata paling terkenal di Indonesia. Selama 100 tahun, menara jam yang berada di jantung Kota Bukittinggi ini tidak hanya menjadi penunjuk waktu, tetapi juga saksi perjalanan sejarah dari masa kolonial, perjuangan kemerdekaan, hingga perkembangan pariwisata modern Sumatera Barat, ujar Wako Ramlan.
Awal Mula Berdirinya Jam Gadang
Jam Gadang dibangun pada 20 Juni 1926 pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Menara ini merupakan hadiah dari Ratu Wilhelmina kepada H.R. Rookmaaker, pejabat kontrolir (controleur) Fort de Kock, nama lama Kota Bukittinggi. Pembangunan menara tersebut menghabiskan biaya sekitar 3.000 gulden dan dirancang oleh arsitek Minangkabau, Yazid Abidin atau Jazid Rajo Mangkuto, dengan bantuan tenaga ahli lokal.
Nama “Jam Gadang” berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti “Jam Besar”. Nama tersebut merujuk pada empat buah jam berukuran besar yang terpasang pada setiap sisi menara. Hingga kini, nama itu telah melekat sebagai identitas Bukittinggi dan Sumatera Barat.
Arsitektur Unik Jam Gadang
Salah satu keistimewaan Jam Gadang adalah teknik konstruksinya yang tidak menggunakan semen maupun rangka besi. Bangunan setinggi 26 Meter ini dibangun menggunakan campuran kapur, pasir putih, dan putih telur sebagai perekat. Metode tradisional tersebut terbukti mampu membuat bangunan tetap kokoh meskipun telah melewati berbagai peristiwa alam dan perubahan zaman.
Mesin jam yang digunakan didatangkan langsung dari Jerman dan dibuat oleh Bernard Vortmann di kota Recklinghausen. Keunikan lainnya adalah penggunaan angka Romawi "IIII" untuk menunjukkan angka empat, berbeda dari penulisan umum "IV". Hingga kini, ciri khas tersebut masih menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Seiring berkembangnya sektor pariwisata, Jam Gadang bertransformasi menjadi destinasi wisata utama di Sumatera Barat. Lokasinya yang berada di pusat kota, dekat Pasar Ateh dan kawasan perdagangan Bukittinggi, membuatnya mudah diakses wisatawan dari berbagai daerah
Bagi banyak wisatawan, berkunjung ke Bukittinggi terasa belum lengkap tanpa berfoto di depan Jam Gadang. Kehadirannya juga sering muncul dalam berbagai suvenir, promosi wisata, kartu pos, hingga materi promosi daerah. Bahkan, bagi banyak orang Indonesia, Jam Gadang menjadi simbol yang langsung mengingatkan pada Sumatera Barat.
Selain menjadi objek wisata sejarah, kawasan Jam Gadang juga menjadi pusat berbagai kegiatan budaya, festival seni Minangkabau, pertunjukan tari tradisional, hingga perayaan tahun baru yang menarik ribuan pengunjung setiap tahun.
Peringatan satu abad ini menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali posisi Jam Gadang sebagai warisan sejarah sekaligus ikon pariwisata yang telah membawa nama Bukittinggi dan Sumatera Barat dikenal luas di tingkat nasional maupun internasional.
Selama 100 tahun, Jam Gadang telah berkembang dari sebuah hadiah kolonial menjadi simbol kebanggaan masyarakat. Minangkabau. Dengan arsitektur unik, sejarah panjang, serta perannya sebagai pusat aktivitas budaya dan pariwisata, Jam Gadang bukan sekadar menara jam, melainkan representasi identitas Sumatera Barat yang terus hidup dari generasi ke generasi.( Prwra/Lipsus A )











Posting Komentar