Sijunjung, integritasmedia.com - MUNGKIN, ada benarnya untuk menjadi pemimpin di Kabupaten Sijunjung sangatlah gampang bagi mereka yang mempunyai uang walaupun tidak kompeten, ditengah apatisnya kaum intelektual. Dan, "rakusnya" masyarakat menerima politik uang.
Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, tidak asing lagi didengar oleh masyarakat awam. Daerah dengan julukan lansek manih ini sempat melahirkan tokoh nasional sekaliber Mohammad Yamin dan Ahmad Syafii Maarif.
Namun, setelah dua kali melakukan pemekaran daerah yang dulu masih bernama Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung itu mulai terseok-seok digilas zaman.
Betapa tidak, Silungkang dan Talawi (diserahkan masuk Kota Sawahlunto, red) adalah duo potensi yang hilang dari kabupaten induk yang kini bernama Kabupaten Sijunjung.
Begitu juga dengan berdirinya Kabupaten Dharmasraya, daerah selatan Kabupaten Sijunjung yang punya potensi persawahan, irigasi, kebun kelapa sawit beserta pabrik.
Sehingga, tak salah kala itu Bupati Darius Apan mengatakan bahwa Sijunjung sekarang hanya tinggal tulang-belulang.
Kondisi ini makin diperparah oleh kepala daerah yang tidak bisa mengelola kawasan yang tertinggal.
Menurut Mantan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Muhamadiyah Ahmad Syafii Maarif (alm) yang dibutuhkan jadi pemimpin saat ini bukan lagi isi kepala (kecerdasan), tapi jumlah kepala (penerima politik uang).
Hal tersebut diungkapkan buya-sapaan Ahmad Syafii Maarif--ketika meresmikan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sijunjung yang terletak di Jalan Lintas Sumatera KM 110, Tanah Badantuang, Sijunjung, beberapa tahun yang lalu.
Apa yang dikatakan guru bangsa asal Sumpurkudus tersebut sekarang seakan terbukti.
Dimana, daerah dengan sebutan ranah lansek manih tersebut makin tertinggal dari daerah lain di Sumatera Barat.
Bahkan, dua daerah yang dimekarkan, Kota Sawahlunto dan Kabupaten Dharmasraya terus melaju tingkat pertumbuhan ekonominya.
Mohammad Yamin putra Talawi Sawahlunto yang juga salah satu tokoh pelopor Sumpah Pemuda mungkin sudah bisa tenang di alam kuburnya.
Bagaimana dengan tokoh Sijunjung melihat masa depan daerahnya yang tidak tentu arah. "Yang "jadi pemimpin" saat ini bisa saja ijazah paket," terang Epi Radisman SH Dt Paduko Alam.
Wakil Ketua Umum Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar asal Sumpurkudus, satu kampung dengan almarhum Buya Syafii Maarif, itu mencontohkan oknum wali nagari dan pengurus KONI Sijunjung.
"Mana prestasinya. Apa olahraga yang dia pegang," kata Paduko Alam, Sabtu (13/6/2026).
Itu juga lanjut mantan Ketua KNPI ini, terjadi pada salah satu oknum wali nagari di Kamangbaru. "Karena punya uang walau ijazah paket dan didukung penguasa," katanya.
Apa yang terjadi saat ini untuk Kabupaten Sijunjung sudah diprediksi jauh-jauh hari oleh sesepuh daerah itu, H Basri Rajo Mudo (alm).
Menurut Pak Camat,--sebutan lain Rajo Mudo--saat ini di Sijunjung sulit mencari sosok seperti Pak Rono yang jujur dan berdedikasi dalam menjalankan tugas.
Pernah dulu, katanya waktu itu, Pak Rono razia kayu di jalan lintas. Oleh sopir Pak Rono dikasih uang. Uang diterima yang kayu dan sopir tetap dibawa ke kantor (ditangkap).
Makna yang tersirat dari cerita Pak Rono ini adalah para pemangku kepentingan terus berusaha sambil memberi solusi agar daerah ini bisa lebih baik lagi kedepannya. Jangan terhenti bila sudah berhadapan dengan uang.(db)
#Sijunjung #LansekManih #Kepemimpinan

Posting Komentar